Beranda Opini Pelayanan Kesehatan di Daerah Terpencil Papua Sangat Minim

Pelayanan Kesehatan di Daerah Terpencil Papua Sangat Minim

Daerah terpencil di Papua merupakan daerah yang letak teritorialnya berada jauh dari pusat pemerintahan di Indonesia sehingga membutuhkan sentuhan tangan lebih dari pemerintah daerah dan pusat. Bagaimana kondisi layanan kesehatan dan tenaga medis di pedalaman Papua?

Laporan: Ruland Kabak-Dekai

Daerah terpencil di Papua merupakan daerah yang letak teritorialnya berada jauh dari pusat pemerintahan di Indonesia. pelayanan kesehatan khususnya untuk daerah-daerah terpencil di Papua sangat minim. Sarana dan prasarana menjadi salah satu hambatan utama yang merintangi berjalannya suatu proses pelayanan kesehatan di daerah terpencil dimana perhatian pemerintah tentang kesehatan yang disalurkan lewat anggaran operasional kesehatan tidak begitu nyata dirasakan dampaknya oleh masyarakat di daerah pedalaman atau daerah terpencil.

Gembar-gembor anggaran yang dijanjikan oleh pemerintah membahana ke seluruh pelosok negeri, namun pada kenyataannya wujud fisik dari anggaran tersebut tidak pada Puskesmas dan Puskesmas Pembantu (Pustu) di daerah terpencil. Masalah-masalah klasik seperti hambatan pada transportasi dan komunikasi, selain itu juga hambatan dari manusianya sendiri sering menjadi salah satu alasan pendistribusian alat-alat kesehatan untuk menunjang pelayanan kesehatan yang tidak tersalurkan.

Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN) yang dilakukan oleh aparat-aparat yang bertugas dalam pendistribusian anggaran operasional kesehatan. budaya korupsi masih menggerogoti mental bangsa Indonesia di berbagai bidang. Masalah yang tidak kalah menyita perhatian dalam kesehatan terutama di daerah terpencil adalah masalah kualitas tenaga medis.

Salah satunya adalah pelayanan Pustu di Distrik Hogio Kabupaten Yahukimo, dimana kurang lebih 6 tahun sejak tahun 2015-2020 pelayanan kesehatan di daerah tersebut tidak berjalan baik lantaran tidak adanya tenaga medis, dan perlengkapan penunjang kesehatan diantaranya alat-alat kesehatan dan obat-obatan. Tuntutan pelayanan seorang tenaga medis di daerah terpencil lebih berat bila dibandingkan tuntutan di daerah perkotaan. Hambatan ini dipicu oleh masalah minimnya sarana dan prasarana penunjang proses pelayanan kesehatan di daerah terpencil.

Apalagi bobot pelayanan yang harus dilaksanakan harus sesusai dengan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Hal ini tentunya menambah beban mental bagi tenaga kesehatan di pedalaman, karena selain harus memikirkan hidupnya sebagai seorang individu di daerah terpencil, seorang tenaga medis di daerah terpencil juga harus memikirkan tanggung jawabnya sebagai seorang tenaga kesehatan. Selain kurang diperhatikannya nasib para medis di daerah terpencil, sistem perekrutan tenaga medis di daerah terpencil juga kurang baik. Seringkali para medis di daerah pedalaman adalah seseorang dengan ilmu dan kemampuan yang seadanya.

Hal ini biasanya disebabkan karena tenaga medis yang direkomendasikan untuk memberikan pelayanan kesehatan hanya lulusan sekolah menengah saja, sehingga proses pelayanan kepada masyarakat setempat tidak berjalan maksimum.

Selain kedua masalah pelayanan kesehatan dan tenaga medis yang melilit daerah terpencil tersebut, masalah keadaan lingkungan dan kondisi masyarakat di daerah terpencil juga mempengaruhi berlangsungnya proses pelayanan kesehatan di daerah terpencil. belum banyak adanya pembangunan seperti di daerah perkotaan, yaitu pembangunan laboratorium, gedung kesehatan, dan lain sebagainya. Hal ini pun menghambat pelayanan kesehatan di daerah terpencil. Padahal kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan adalah fondasi awal yang dibutuhkan untuk membangun pendidikan dan pembangunan di daerah tersebut.

Kebanyakan dari mereka lebih memilih menginfestasikan hartanya untuk hal-hal yang menurut mereka lebih berguna bila dibandingkan dengan kesehatan. terkadang mereka lebih rela menahan keluarga mereka yang sakit berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan karena tidak ada tenaga medis dan obat-obatan. Dan untuk menyembuhkan keluarga yang sakit, harus mengeluarkan biaya yang mahal, dan mengorbankan waktu dan tenaga.

Yoni Selak, salah satu masyarakat Distrik Hogio mengatakan untuk mendapatkan obat-obatan harus menempuh perjalanan selama 2 hari 2 malam. Dalam perjalanan tersebut Yoni melewati perkampungan, naik gunung dan turun gunug. Dan untuk menebus obat-obatan dirinya menyebutkan mengeluarkan uang sebanyak Rp 500 ribu. “Saya harus mengeluarkan uang Rp 500 ribu,” kata Yoni Selak kepada Bintang Papua beberapa waktu lalu.

Melihat kondisi ini, pemerintah harus lebih peduli terhadap kesehatan di daerah terpencil, karena semua akan berjalan dengan baik jika top manajemennya dalam hal ini pemerintah, mampu dan mau untuk lebih peduli terhadap kesehatan di daerah terpencil.

Dengan kepedulian pemerintah, lalu didukung oleh semua sarana pendukung maka pelayanan kesehatan di daerah terpencil tidak akan tertinggal dan akan lebih layak. Diharapkan pelayanan kesehatan di Indonesia tidak terkotori oleh KKN, karena dengan bebas dari KKN, maka segala sesuatu akan jauh lebih lancar, baik dari pengadaan prasasrana maupun dari pengandaan tenaga kesehatannya.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Populer

Oknum Pendeta Penyandang Dana OPM Ditangkap

JAYAPURA-Satuan Tugas (Satgas) Nemangkawi menangkap Paniel Kogoya seorang yang diduga menjadi penyandang dana untuk diberikan kepada Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) atau TPN-OPM  guna membeli senjata...

Peduli Bencana Banjir dan Longsor, DPC Partai Hanura Yahukimo Salurkan Bantuan

DEKAI-Wujud kepedulian terhadap sesama yang mengalami musibah bencana banjir dan tanah longsor di Distrik Hogio Kabupaten Yahukimo Papua, pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai...

Satgas Nemagkawi ‘Pukul Mundur’ OPM di Beoga

 JAYAPURA-Ratusan aparat TNI-Polisi yang tergabung dalam Satgas Nemangkawi telah mendarat di Bandara Beoga, Kabupaten Puncak, Papua, Kamis (15/4). Mereka memukul mundur Kelompok Kriminal Bersenjata...

Jurnalis Senior Victor Mambor Diteror, Mobilnya Dirusak

 JAYAPURA-Intimidasi dan teror terhadap jurnalis kembali terjadi di Papua. Kali ini intimidasi dialami jurnalis senior dan juga Pemimpin Umum Tabloid Jubi, Victor Mambor di...

Komentar Terbaru

error: Content is protected !!