Beranda Opini Menjadi Tuan di Negeri Sendiri

Menjadi Tuan di Negeri Sendiri

Sebuah Perspektif Theologis oleh Pdt. Daniel Sukan, M.Th

Tahun 2003,  ketika menjabat sebagai Kepala Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia (LPMI)  Perwakilan Jayapura waktu itu,  saya diundang oleh Gereja Injili di Indonesia (GIDI) untuk menyampaikan seminar di kampung Holuon, Distrik Ninia, kabupaten Yahukimo. Mungkin bagi pembaca yang belum tahu, bahwa kata YAHUKIMO adalah singkatan dari: YAli-HUbla- KImnal-MOmuna. Sebuah kabupaten pemekaran di era Ostsus yang didiami oleh empat suku. Kala itu, dua tahun paska Otsus diberlakukan, ada sebuah adagium atau moto yang sangat populer yakni: “Menjadi tuan di negeri sendiri”.

Dalam perjalanan dari Wamena ke Holuon, saya duduk dekat pilot sambil ceritera. Dalam  percakapan kami ia tanya kepada saya, apa artinya “menjadi tuan di negeri sendiri”. Kemudian pajang lebar saya menjelaskan kepadanya bahwa kami orang asli Papua, selama masa orde baru merasa diperlakukan tidak adil. Salah satau ketidak-adilan adalah hak-hak dasar kami tidak diakui dan diakomodir. Sehingga bukan hanya orang non Papua yang mendapat askses pendidikan, kesehatan dan ekonomi bahkan sosial politik misalnya menduduki jabatan politis seperti bupati/walikota  melainkan menjadi PNS di kampung, distrik dan kabupaten bahkan provinsi. Orang Asli Papa harus diberikan kesempatan oleh pemerintah, sesuai dengan amat UU Otsus No. 21 tahun 2001. Semetara itu, saya tunjukkan kepadanya buku saku UU Otsus yang saya bawa dalam noken, sebagai bahan bacaan. Oleh karena sebagai nara sumber saya harus paham dan mampu menjelaskan tentang beberapa hal dalam UU tersebut kepada warga gereja yang akan mengikuti seminar. Kemudian dalam percakapan kami, tiba-tiba saya berpikir tentang posisi duduk saya dekat kursi pilot. Apakah itu bisa berarti saya paksa dia (pilot) untuk pindah dan lepaskan kendali pesawat kepada saya? Jika moto itu saya terapkan dalam pesawat, dan minta pilot serahkan kemudi  pesawat  kepada saya sebagai OAP, mungkin kami akan lebih cepat “landing” di balik gunung. Mengapa? Karena saya belum siap untuk mengambil alih posisi sebagai pilot. Saya butuhkan ilmu khusus yaitu belajar  beberapa tahun di sekolah seperbangan. Jadi akhirnya saya berpikir ulang bahwa  moto: menjadi tuan di negeri sendiri tidak serta-merta diterapkan dalam semua situasi dan kondisi.

Pesawat milik Mision Aviation Fellowship (MAF) yang dikemudikan pilot berkebangsaan Amerika itu dengan lincahnya mengemudikan pesawat seri Pilatus,  menembus awan yang menyelimuti sebagian gunung. Pilot melakukan manuver untuk landing di bandara Holuon yang terletak di balik sisi gunung sebelah kiri sayap pesawat. Saya sempat bertanya, dimana posisi landasan? Pilot menjawab bahwa ada di sisi sebelah kiri sambil menukikkan pesawat dengan moncong menyusuri ubun-ubun dedaunan pohon di tebing  gunung. Posisi landasan pacu seperti sebuah bumbungan rumah dan kami lending di atasnya, dengan sisi kiri dan kanan amat terjal. Pilot sangat professional dalam mengemudikan pesawat tersebut. Saya belum siap untuk melakukannya.

Akhirnya, percakapan kami dalam pesawat itu menginspirasi saya  dan  menjadi sebuah ilustrasi untuk menjelaskan kepada peserta  dalam Seminar waktu itu, dan di tempat lain juga bahwa, adagium atau motto “menjadi tuan di negeri” tidak serta merta diterapkan dalam berbagai situasi.

Oleh kerena itu, hendaklah setiap orang harus memahami bahwa seseorang yang dipercayakan dalam sebuah jabatan untuk memimpin orang lain,  minimal ia haru memiliki 3C yaitu, Charater (Karakter-sikap hati); Capacity (Kapasitas/Pengetahuan), dan Competency (Skill-Ketrapilan). Sebagai rohaniawan yang sering membina mahasiswa kala itu, selalau saya menekankan karakter mahasiswa Kristen sebagai calon pemimpin masa depan. Karakter atau moral seorang pemimpin menjadi fondasi bagi dua hal berikutnya yakni ilmu dan ketrampilan. Kepada para mahasiswa sering kali saya mengingatkan 3C tersebut dalam bentuk yang lain disingkat 3H  yaitu: Heart (Hati yang beriman); Head (kepala yang berisi  ilmu) dan Hands (tangan yang trampil bekerja).  Kita butuh pemimpin yang trampil bekerja sesuai dengan disiplin ilmu dalam bidangnya (professional) dan memiliki etos kerja karena hatinya takut akan Tuhan.

Jika seseorang, khususnya Orang Asli Papua memiliki tiga hal tersebut, makai  pantas menjadi tuan di negeri sendiri. Namun jika tidak, maka sejarah menbuktikan bahwa banyak pemimpin yang gagal mengakhiri kepemimpinannya dengan  baik (finishing well), bukan karena kurang pengetahuan dan ketrampilan, melainkan karena gagal memimpin dirinya sendiri. Kegagalan memimpin diri sendiri adalah berbicara tentang hati seorang pemimpin. Tokoh-tokoh yang diceriterakan dalam Kitab Suci  seperti: Raja Salomo, Simson dan Yudas menjadi model pemimpin yang gagal memimpin diri sendiri, walaupun mereka memiliki pengetahuan dan ketrampilan hebat.

Menyadari pentingnya sumber daya manusia (SDM) untuk mengelola sumber daya alam (SDA) Papua bagi kesejahteraan, maka pemerintah provinsi Papua telah melakukan terobosan yang brilliant melalui program beasiswa kepada anak-anak Papua untuk menimba ilmu di  berbagai negara di dunia saat ini. Ini sebuah hasil pembanguan jangka panjang yang membanggakan, namun satu hal yang dapat saya ingatkan sebagai piimpinan gereja adalah bahwasannya harus memperhatikan keseimbangan calon pemimpin masa depan Papua tersebut dalam 3H yaitu Heart; Head dan Hand atau keseimbangan antara: hati, kepala dan tangan sebagaimana diuraikan di atas. Sehingga seseorang siap memimpin di negerinya sendiri bahkan di negeri orang lain sesuai dengan rencana Tuhan.

*) Penulis adalah Ketua GPKAI se Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Populer

Komentar Terbaru

error: Content is protected !!