Beranda Opini Buah Simalakama: Kesehatan Atau Ekonomi?

Buah Simalakama: Kesehatan Atau Ekonomi?

Oleh

Pdt Daniel Sukan,MTh

Covid-19 yang menjadi pendemi global telah menyebabkan lebih dari 200 negara di dunia termasuk Indonesia harus berjuang mengatasinya. Namun, sampai hari ini belum ada tanda-tanda pendemi bisa dikendalikan. Upaya pengendalian yang melibatkan semua komponen bangsa seperti usaha menjaring angin. Terpaksa  kita diperhadapkan pada  dua pilihan berat yakni kesahatan atau ekonomi? Dalam usaha penyelamatan pada saat bencana,  ada pilihan serba salah seperti pepatah kuno tentang buah si malakama; “jika dimakan ayah mati, tidak dimakan ibu mati”. Itulah sebabnya dalam situasi pandemi global ini, kita tidak bisa memilih. Jadi terpaksa harus memilih salah satu dan mengorbankan yang lain.

Sebelum membuat pilihan, tentu harus membuat karkulasi yang bijak sesuai dengan data dan fakta. Data dan fakta pandemi Covid-19 di seluruh Indonesia cukup menarik. Jika dihitung rata-rata terkonfirmasi setiap hari di seluruh Indoensia adalah sebagai berikut:

• Maret                      : 51 org /hari

• April                      : 286 org /hari

• Mei                        : 527 org /hari

• Juni                       : 983 org /hari

• 2 minggu terakhir      : 1.123 org /hari

Jika melihat data dan fakta tersebut, sebenarnya tidak ada alasan bagi pemerintah untuk melonggarkan pembatasan sosial. Pembatasan sosial harus lebih diperketat lagi. Namun demikian, mengapa kebijakan pemerintah baik pusat maupun beberapa daerah, terkesan terburu buru untuk melonggarkan pembatasan sosial? Semua kebijakan itu, semata-mata karena alasan ekonomi demi masa depan bangsa. Data dan fakta lain:

• Kemendikbud menyatakan bahwa 94 persen peserta didik berada di zona kuning, orange dan merah. Hanya 6 persen yang tinggal di zona hijau.

• Diberitakan juga bahwa 34 persen cases di Jawa Timur tertular dari Orang Tanpa Gejala (OTG).

• Di Surabaya 16 masjid dan 4 gereja Kembali ditutup sementara karena jemaatnya positif Covid-19. Dan masih banyak data dan fakta yang menjadi dasar pertimbangan bagi pemerintah pusat untuk lebih memperketat pembatasan sosial.

Setelah berdiskusi tentang hukum penyelamatan dalam sebuah bencana, seorang teman, yang sekarang menjadi kepala BNPB di sebuah kabupaten di Provinsi Papua menjelaskan bahwa bilamana ada 2 orang ibu dan anak dalam suatu bencana, kita harus pilih salah satu untuk diselamatkan. Menurut Hukum Penyelamatan Dalam Bencana, yang dipilih untuk ditolong adalah anaknya, tetapi ibunya dikorbankan. Demikian juga dalam  bencana Covid-19, pilihan  hanya ada dua kesehatan atau ekonomi?

Pilihan pertama,  jika pilih kesehatan untuk diselamatkan, maka yang jadi korban ekonominya hancur. Jika ekonomi hancur akan mempengaruhi banyak sektor termasuk pendidikan yang pasti berdampak bagi generasi muda dan masa depannya suram. Ingat, Jumlah generasi muda (pemuda dan anak-anak) yang akan menjadi korban jumlahnya besar sekali dan berkisar 91 persen dari total 267 juta rakyat Indonesia.

Pilihan kedua, kalau pilih ekonomi yang diselamatkan, kesehatan akan hancur. Covid-19 mungkin akan merajalela dan fakta WHO menunjukkan bahwa kemungkinan anak-anak muda kita kuat dan tidak jadi korban Covid-19. Sedangkan yang usia di atas 50-an atau Lansia akan jadi korban karena ada komplikasi penyakit bawaan. Namun dalam hukum penyelamatan, jumlah Lansia hanya 9 persen dari total 267 juta penduduk Indoensia.

Jadi, kita harus memilih menyelamatkan yang generasi muda yang jumlahnya besar sekali. Sedangkan yang produktifitasnya cenderung menurun dan jumlahnya sedikit, terpaksa dikorbankan. Inilah hukum penyelamatan dalam sebuah bencana.

Pilihan pemerintah untuk menyelamatkan ekonomi dari pada kesehatan adalah pilihan yang tepat. Selamatkan jumlah yang banyak, dan korbakan yang sedikit. Hukum ini juga berlaku dalam operasi penyelamatan sandera. Covid-19 sudah menyandera planet ini, dan setiap negara harus memilih untuk makan buah simalakama itu.

Kesehatan dan Ekonomi memang memiliki hubungan tetapi tidak dapat disatukan.  Mungkin diibaratkan gempa dan tsunami. Penyebaran virus Covid-19 bagaikan gempa bumi di dasar laut yang sudah barang tentu menimbulkan kerugian dalam 3 bulan terakhir. Namun demikin dampak “tsunami” yang sedang mengikutinya yakni resesi ekonomi sedang ada di depan amban pintu. Prediksi tentang kondisi ekonomiglobal menunjukkan bahwa jika pembatasan sosial atauLockdown di berbagai negara berlangsung lama dan memaksa aktifitas ekonomi mati suri dan bukan tidak mungkin tidak terjadi resesi ekonmi global, yang pada gilirannya akan menyebakan rontoknya beberapa negara.

 

Sekali lagi data dan fakta: 

 

• Di Amerika sudah 33 juta orang kena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Di China ada 80 juta orang. Eropa sendiri pusing dengan 60 juta pekerja terancam PHK.

• Badai Corona ini membuat Amerika harus berhutang 46 ribu triliun rupiah. Sebagian besar hutang bukan untuk menghadapi Corona, tapi untuk menyelamatkan keuangan perusahaan-perusahaan yang mulai rontok bersamaan.

• Eropa sendiri menggalang dana hampir 2 ribu triliun rupiah, untuk menyelamatkan Eekonomi mereka.

Jadi jangan anggap remeh resesi Ekonomi kali ini. Karena, virus mungkin hanya membunuh beberapa orang, tetapi resesi ekonomi bisa menghancurkan sebuah negara, bahkan beberapa negara bersamaan.Inilah masa-masa menakutkan bagi banyak negara, termasuk Indonesia. Produksi berhenti, ekonomi hancur, orang ketakutan, dan dampak besarnya adalah jutaan orang kehilangan pekerjaan.

Para pengusaha di Indonesia bahkan sudah memberi peringatan (warning) bahwasanya mereka hanya bisa bertahan terakhir di bulan Juni saja. Kalau Juli 2020, Mal dan pasar masih ditutup dan karyawan tidak bisa bekerja maka banyak perusahaan bangkrut dan untuk menyelamatkan keuangan banyak perusahaan itu, butuh dana ribuan triliun rupiah.

Kita tidak bisa hidup dalam ketakutan terus-menerus. Kita harus mulai bergerak untuk melancarkan nadi perekonomian kembali dan pendidikan bagi masa depan bangsa dan negara. Sektor kesehatan, ekonomi dan pendidikan harus diberikan porsi yang seimbang dengan pilihan yang sudah barang tentu tidak muda. Kita bedoa dan berharap pera pemimpin kita membuat pilihan yang tepat.

Bagaimana pandangan dan sikap gereja dalam membuat pilihan yang sulit berdasarkan prinsip: Iman dan Hikmat? Bagaimana gereja mengubah tantangan menjadi peluang untuk melayani di tengah-tengah perubahan yang cepat dan mendasar?

*) Penulis adalah Ketua Sinode GPKAI Se-Indonesia

(berlanjut….)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Populer

Komentar Terbaru

error: Content is protected !!